Akhirnya semua tiba pada suatu hari yang biasa.
Suatu ketika yang sebenarnya telah lama kita ketahui ujungnya.
Apakah kamu masih selembut dulu?
Memanggilku dengan panggilan sayang,
Memanggilku dengan panggilan sayang,
mengkhawatirkanku walaupun hanya berpura-berpura.
Apakah kamu masih seperti dulu?
Membuatku sembelit saat berhari-hari tak kudengar suaramu di ponselku,
Apakah kamu masih seperti dulu?
Membuatku sembelit saat berhari-hari tak kudengar suaramu di ponselku,
walaupun suara yang terdengar pada akhirnya begitu sangat terpaksa di telingaku.
Apakah kehangatan dibalik punggungmu itu masih bisa terus kurasakan?
Saat kamu kudekap.
Apakah kehangatan dibalik punggungmu itu masih bisa terus kurasakan?
Saat kamu kudekap.
Saat aku menikmati khas baumu,
Campuran dari keringatmu, parfumu dan asap rokok yang menempel di pakaianmu.
Apakah semua perasaan nyaman itu akan segera berakhir,
Apakah semua perasaan nyaman itu akan segera berakhir,
walaupun sampai sekarang hidup,
masih terus hidup,
dan aku tak mengerti bagaimana cara memadamkanya?
Langit kelabu itu mulai beranjak,
Kulihat semuanya menjadi muram,
Langit kelabu itu mulai beranjak,
Kulihat semuanya menjadi muram,
kusam...
Dan...
Wajah itu tiba-tiba muncul,
wajah yang tidak kukenal, berbicara dengan bahasa yang tidak ku mengerti,
rasanya seperti ada kabut pagi itu.
Saat itu seakan menancap dibenakku sebuah kalimat
"JIKA KAMU TAK PERNAH MENANAMKAN APA-APA . MAKA KITA TAK AKAN PERNAH KEHILANGAN APA-APA"
Untuk kamu yang pernah mesra, pernah baik, simpati dan menanamkan rindu padaku.
Wajah itu tiba-tiba muncul,
wajah yang tidak kukenal, berbicara dengan bahasa yang tidak ku mengerti,
rasanya seperti ada kabut pagi itu.
Saat itu seakan menancap dibenakku sebuah kalimat
"JIKA KAMU TAK PERNAH MENANAMKAN APA-APA . MAKA KITA TAK AKAN PERNAH KEHILANGAN APA-APA"
Untuk kamu yang pernah mesra, pernah baik, simpati dan menanamkan rindu padaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar