Hampir setiap malam kita bertatap muka, Tapi sama sekali tidak ada yang berani untuk angkat bicara .
Tak mungkin menyalahkan waktu .
Dan tak akan pernah bisa menyalahkan keadaan .
Tapi hari itu aku memberanikan diri untuk menemuinya.
melihat wajahnya dari dekat sembari sedikit mengenang kebiasaan yang memaksaku membuka halaman memori dulu.
Masuk dan membuka pintu kemudian Mencium aroma yang khas di kamarnya,
Aroma yang lama sekali kurindukan keberadaanya.
Apa kabarmu hari ini??
Gumamku dalam hati,
Walaupun aku tau kondisimu sedang tidak VIT hari itu,
Pucat pasi dengan hidung memerah.
Kubawakan sepaket salad buah untuk sedikit memerangi virus flu ditubuhmu.
Senang rasanya menemanimu melahap salad hari itu,
tapi sayang....
Mungkin aku sudah tidak ada hak lagi untuk mengingatkanmu,
Sudahkah kamu makan?
Sudahkah kamu minum obat?
Sudahkah kamu minum vitamin?
sesak rasanya didada setelah melangkahkan kaki meninggalkan halaman rumahmu.
Aku hanya ingin kita bicara apa adanya,
Tak perlu membicarakan yang lalu karena aku sudah tau dan tak lagi ingin tau,
Aku hanya ingin bicarakan esok dan ingin menanyakan padamu tentang sesuatu.
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan esok tanpamu??"
Kalau seandainya itu memang terjadi.
Sebenarnya aku sudah ikhlas.
Ikhlas bukan untuk melepaskanmu,
Tapi ikhlas untuk membiarkanmu,
Karena bagian tersulit dalam mengenalmu adalah membiarkanmu mencintai orang lain.
Allahuakbar . Aku benar-benar membutuhkankan obat penenang rasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar